<mods:mods version="3.3" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd" xmlns:mods="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"><mods:titleInfo><mods:title>SKRIPSI-2210015035-ATHIRA PRAMESHNIRA IVANA-REPOSITORY</mods:title></mods:titleInfo><mods:name type="personal"><mods:namePart type="given">ATHIRA</mods:namePart><mods:namePart type="family">ATHIRA PRAMESHNIRA IVANA</mods:namePart><mods:role><mods:roleTerm type="text">author</mods:roleTerm></mods:role></mods:name><mods:abstract>Latar Belakang: Bunuh diri merupakan masalah kesehatan masyarakat yang serius.&#13;
Dampaknya meliputi trauma keluarga, kejadian berulang pada keluarga dengan riwayat&#13;
bunuh diri, dan persepsi bahwa bunuh diri bukan tindakan yang salah. Gunungkidul&#13;
menyumbang kasus bunuh diri tertinggi di DIY dengan total 145 kasus selama 2021–2025,&#13;
didominasi kelompok lansia (&gt;55%). Risiko bunuh diri pada lansia diperkirakan&#13;
dipengaruhi oleh akumulasi faktor sistem kesehatan, sosial, komunitas, relasional, dan&#13;
individu. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi determinan utama kejadian bunuh diri&#13;
pada lansia di Kabupaten Gunungkidul. Tujuan: Mengidentifikasi determinan utama yang&#13;
berperan pada kejadian bunuh diri yang pada lansia di Kabupaten Gunungkidul. Metode:&#13;
Penelitian menggunakan desain case control dengan pendekatan kuantitatif retrospektif.&#13;
Populasi terjangkau adalah seluruh lansia berusia ≥60 tahun di Kabupaten Gunungkidul&#13;
periode 2021–2025. Sampel terdiri dari 82 kasus dan 82 kontrol yang diambil&#13;
menggunakan purposive sampling dengan matching 1:1. Data primer dikumpulkan melalui&#13;
kuesioner Instrumen Mitos Pulung Gantung, sedangkan data sekunder bersumber dari arsip&#13;
resmi Dinas Kesehatan dan Polres Gunungkidul. Analisis data dilakukan secara univariat&#13;
dan bivariat menggunakan SPSS versi 27. Hasil: penelitian menunjukkan gangguan jiwa&#13;
berhubungan bermakna dengan kejadian bunuh diri (p = 0,000) dengan prevalensi 56%&#13;
pada kelompok kasus. Penyakit kronis tidak menunjukkan hubungan signifikan (p = 0,339),&#13;
demikian pula mitos pulung gantung (p = 0,623). Kesimpulan: Determinan utama kejadian&#13;
bunuh diri pada lansia di Kabupaten Gunungkidul adalah gangguan jiwa.&#13;
Kata kunci:&#13;
Bunuh diri, Determinan, Lansia</mods:abstract><mods:classification authority="lcc">R Medicine</mods:classification><mods:classification authority="lcc">Skripsi</mods:classification><mods:originInfo><mods:dateIssued encoding="iso8601">2026</mods:dateIssued></mods:originInfo><mods:originInfo><mods:publisher>Universitas Muhammadiyah Prof. DR. Hamka;PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER</mods:publisher></mods:originInfo><mods:genre>Thesis</mods:genre></mods:mods>