<mods:mods version="3.3" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd" xmlns:mods="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"><mods:titleInfo><mods:title>SKRIPSI-2210015020-CUT ASHILAH HAURA-REPOSITORY</mods:title></mods:titleInfo><mods:name type="personal"><mods:namePart type="given">ASHILAH</mods:namePart><mods:namePart type="family">CUT ASHILAH HAURA</mods:namePart><mods:role><mods:roleTerm type="text">author</mods:roleTerm></mods:role></mods:name><mods:abstract>Resistensi antibiotik yang terus meningkat mendorong pencarian sumber&#13;
antibakteri alternatif dari bahan alam. Bellis parennis (bunga daisy) diketahui&#13;
mengandung berbagai senyawa bioaktif yang berpotensi sebagai antibakteri.&#13;
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas ekstrak Bellis parennis&#13;
terhadap pertumbuhan Staphylococcus aureus dan Escherichia coli secara in vitro&#13;
serta menentukan konsentrasi yang memberikan aktivitas antibakteri terbaik.&#13;
Penelitian ini merupakan true experimental laboratory research dengan rancangan&#13;
posttest-only control group design. Ekstrak Bellis parennis diperoleh melalui&#13;
metode maserasi menggunakan etanol 96% dan diuji pada konsentrasi 0,67 g/mL,&#13;
1 g/mL dan 3 g/mL. Aktivitas antibakteri dievaluasi menggunakan metode difusi&#13;
cakram Kirby–Bauer terhadap Staphylococcus aureus ATCC 25923 dan&#13;
Escherichia coli ATCC 25922, dengan ciprofloxacin sebagai kontrol positif dan&#13;
DMSO sebagai kontrol negatif. Data dianalisis menggunakan uji Kruskal–Wallis&#13;
dan Mann-Whitney. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak Bellis parennis&#13;
memiliki aktivitas antibakteri terhadap kedua baktersi uji. Pada Staphylococcus&#13;
aureus, zona hambat terbentuk pada seluruh konsentrasi yang diuji, sedangkan pada&#13;
Escherichia coli zona hambat hanya terbentuk pada konsentrasi 3 g/mL. Uji&#13;
Kruskal-Wallis menunjukkan tidak terdapat perbedaan bermakna antar konsentrasi&#13;
pada Staphylococcus aureus (p=0,060), tetapi terhadap perbedaan bermakna pada&#13;
Escherichia coli (p=0,021). Uji Mann-Whitney menunjukkan bermakna antara&#13;
Staphylococcus aureus dan Escherichia coli pada seluruh konsentrasi (p&lt;0,05).&#13;
Disimpulkan bahwa ekstrak Bellis parennis memiliki aktivitas antibakteri secara in&#13;
vitro dan lebih efektif terhadap Staphylococcus aureus dibandingkan Escherichia&#13;
coli.&#13;
Kata kunci: Bellis parennis, antibakteri, Staphylococcus aureus, Escherichia&#13;
coli, difusi cakram Kirby–Bauer.</mods:abstract><mods:classification authority="lcc">R Medicine</mods:classification><mods:classification authority="lcc">Skripsi</mods:classification><mods:originInfo><mods:dateIssued encoding="iso8601">2026</mods:dateIssued></mods:originInfo><mods:originInfo><mods:publisher>Universitas Muhammadiyah Prof. DR. Hamka;PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER</mods:publisher></mods:originInfo><mods:genre>Thesis</mods:genre></mods:mods>