<mods:mods version="3.3" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd" xmlns:mods="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"><mods:titleInfo><mods:title>SKRIPSI-2210015008-NUR HAMNI LAILA QADRIAH-REPOSITORY</mods:title></mods:titleInfo><mods:name type="personal"><mods:namePart type="given">NUR HAMNI</mods:namePart><mods:namePart type="family">NUR HAMNI LAILA QADRIAH</mods:namePart><mods:role><mods:roleTerm type="text">author</mods:roleTerm></mods:role></mods:name><mods:abstract>Kekerasan seksual terhadap anak merupakan permasalahan medikolegal yang terus&#13;
mengalami peningkatan di Indonesia, dengan data SIMFONI PPA mencatat 11.771 korban&#13;
anak pada tahun 2024. Temuan luka fisik dalam kasus ini sangat bervariasi dan diduga&#13;
dipengaruhi oleh karakteristik korban, namun penelitian analitik yang secara sistematis&#13;
menguji hubungan tersebut masih sangat terbatas. Penelitian ini dilandaskan pada teori&#13;
kerentanan biologis dan anatomi genital anak, konsep medikolegal Visum et Repertum&#13;
(VeR), serta kerangka teoritis perlindungan anak berdasarkan UU Nomor 35 Tahun 2014.&#13;
Desain yang digunakan adalah deskriptif analitik dengan pendekatan cross-sectional,&#13;
menggunakan data sekunder retrospektif dari 296 dokumen VeR kasus kekerasan seksual&#13;
anak di RS Bhayangkara Tingkat I Pusdokkes Polri tahun 2024. Penggalian data dilakukan&#13;
melalui telaah rekam medis dan hasil VeR, kemudian dianalisis menggunakan uji Pearson&#13;
Chi-Square via SPSS. Hasil penelitian menunjukkan korban didominasi kelompok usia 6–&#13;
12 tahun (34,1%), berjenis kelamin perempuan (89,9%), dengan sebagian besar pelaporan&#13;
dilakukan lebih dari 48 jam pasca-kejadian (66,1%). Jenis luka terbanyak adalah luka robek&#13;
(58,1%), dan lokasi luka paling sering ditemukan pada area anogenital (82,1%). Analisis&#13;
bivariat membuktikan terdapat hubungan bermakna antara usia (p&lt;0,001), jenis kelamin&#13;
(p&lt;0,001), dan waktu pelaporan (p=0,041) dengan jenis luka fisik. Sebaliknya, tidak&#13;
ditemukan hubungan signifikan antara usia maupun jenis kelamin dengan lokasi luka.&#13;
Penelitian ini menegaskan bahwa karakteristik korban berpengaruh terhadap temuan klinis&#13;
forensik, sehingga pemeriksaan VeR yang komprehensif dan pelaporan dini menjadi kunci&#13;
penguatan bukti dalam penegakan hukum kasus kekerasan seksual anak.&#13;
Kata kunci: kekerasan seksual anak, karakteristik korban, kedokteran forensik, temuan&#13;
luka fisik, visum et repertum</mods:abstract><mods:classification authority="lcc">R Medicine</mods:classification><mods:classification authority="lcc">Skripsi</mods:classification><mods:originInfo><mods:dateIssued encoding="iso8601">2026</mods:dateIssued></mods:originInfo><mods:originInfo><mods:publisher>Universitas Muhammadiyah Prof. DR. Hamka;PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER</mods:publisher></mods:originInfo><mods:genre>Thesis</mods:genre></mods:mods>