%R https://doi.org/10.25299/geram.2026.28244 %V 14 %X Fenomena kenaikan tunjangan anggota DPR sering kali memicu diskursus publik yang melibatkan dinamika kesantunan dan ketidaksantunan berbahasa. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pematuhan dan pelanggaran prinsip kesantunan berbahasa dalam tuturan anggota DPR terkait isu kenaikan tunjangan dan gelombang demonstrasi tahun 2025. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan teknik analisis isi. Selanjutnya,data dianalisis secara deskriptif melalui bantuan tabulasi persentase untuk meilhat kecenderungan dominasi maksim yang muncul. Sumber data diperoleh dari berbagai platform media sosial yang memuat pernyataan resmi maupun opini anggota DPR. Data dikumpulkan melalui teknik simak dan catat terhadap 265 satuan tuturan, yang kemudian dianalisis menggunakan kerangka teoretis maksim kesantunan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pematuhan maksim kesantunan masih mendominasi sebesar 61%, sementara pelanggaran maksim (ketidaksantunan) mencapai39%. Maksim yang paling banyak dipatuhi ialah maksim kesepakatan, sedangkan yang paling banyak dilanggar ialah maksim kerendahan hati. Temuan ini mengindikasikan bahwa meskipun mayoritas tuturan masih menjaga norma komunikasi publik. Tingginya angka pelanggaran mencerminkan adanya resistensi komunikasi dan rendahnya empati pragmatis aktor politik terhadap kondisi sosiokultural masyarakatyang berpotensi memicu eskalasi konflik antara masyarakat dan pemerintah sehingga penerapan teori Leech perlumempertimbangkan konteks budaya dan situasi komunikasi yang dinamis %J GERAM Gerakan Aktif Menulis %L repository54064 %N 2 %A Sri Mulyani Sri Mulyani %D 2026 %I UIR Press %T Artikel Kesantunan Berbahasa pada Tuturan Anggota DPRTerkait Isu Tunjangan dan Demonstrasi 2025 (Kajian Pragmatik) %P 298-316